Beranda | Artikel
Keutamaan Mengucapkan Salam dalam Majelis
19 jam lalu

Keutamaan Mengucapkan Salam dalam Majelis adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 7 Sya’ban 1447 H / 26 Januari 2026 M.

Kajian Islam Tentang Keutamaan Mengucapkan Salam dalam Majelis

Fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini menunjukkan bahwa salam belum sepenuhnya populer. Banyak orang lebih memilih menggunakan ucapan sapaan seperti “permisi”, “sampai jumpa”, atau sapaan asing saat bertemu maupun berpisah. Padahal, bagi seorang muslim, salam seharusnya menjadi amalan utama dalam berinteraksi.

Tingkatan Pahala dalam Salam

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu mengenai seorang laki-laki yang melewati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat beliau sedang berada di dalam sebuah majelis bersama para sahabat. Kejadian tersebut menggambarkan tingkatan pahala berdasarkan kelengkapan redaksi salam:

  1. Orang pertama lewat dan mengucapkan, “Assalamu’alaikum.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sepuluh kebaikan.”
  2. Orang kedua lewat dan mengucapkan, “Assalamu’alaikum warahmatullah.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Dua puluh kebaikan.”
  3. Orang ketiga lewat dan mengucapkan, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tiga puluh kebaikan.”

Adab Meninggalkan Majelis

Dalam majelis tersebut, terdapat seorang sahabat yang berdiri dan pergi meninggalkan tempat tanpa mengucapkan salam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian memberikan teguran sebagai pencerahan bagi jemaah bahwa ilmu baru akan berguna jika diamalkan. Beliau bersabda:

مَا أَوْشَكَ مَا نَسِيَ صَاحِبُكُمْ

“Sangat cepat dia lupa.” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa salam tidak hanya diucapkan saat kedatangan, tetapi juga saat keberangkatan. Beliau memberikan penjelasan melalui sabdanya:

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَجْلِسَ فَلْيُسَلِّمْ فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ وَإِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الْآخِرَةِ

“Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Jika ia ingin duduk, maka duduklah. Dan apabila ia berdiri (hendak meninggalkan majelis), hendaklah ia mengucapkan salam pula. Karena tidaklah yang pertama lebih berhak (utama) daripada yang terakhir.” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)

Banyak orang menganggap cukup mengucapkan salam saat datang saja. Padahal, meninggalkan majelis tanpa salam dapat menyebabkan kehilangan pahala sekaligus menimbulkan kesan yang kurang baik bagi orang-orang yang tetap berada di tempat tersebut. 

Setiap muslim yang mendengarkan salam diperintahkan untuk membalasnya. Balasan tersebut dapat berupa kalimat Wa’alaikumussalam, Wa’alaikumussalam warahmatullah, atau Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Kerendahan Hati dan Perlombaan dalam Kebaikan

Imam Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad (nomor 987) meriwayatkan dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu bahwa beliau pernah dibonceng oleh Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu ‘Anhu. Kisah ini menunjukkan bahwa berboncengan saat berkendara baik naik kuda, keledai, maupun sepeda motor di masa kini bukanlah hal yang tabu bagi orang-orang yang mulia.

Umar mengisahkan bahwa saat mereka melewati sekumpulan orang, Abu Bakar memulai dengan mengucapkan salam. Hal ini merupakan pengamalan sunnah bahwa orang yang berkendaraan hendaknya mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, dan orang yang berjalan mengucapkan salam kepada yang duduk. Abu Bakar adalah manusia yang paling mulia setelah para nabi, beliau tetap rendah hati untuk memulai salam. Prinsip ini berlaku bagi siapa saja, termasuk seorang pemimpin perusahaan saat melewati bawahannya atau petugas keamanan. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan tanpa memandang kedudukan sosial.

Berlomba Meraih Pahala yang Sempurna

Dalam perjalanan tersebut, terjadi dialog salam yang menarik:

  1. Saat Abu Bakar mengucapkan, “Assalamu’alaikum,” mereka membalas dengan, “Assalamu’alaikum warahmatullah” (20 kebaikan).
  2. Saat Abu Bakar menambah menjadi, “Assalamu’alaikum warahmatullah,” mereka membalas dengan, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” (30 kebaikan).

Melihat orang-orang tersebut selalu memberikan balasan yang lebih lengkap, Abu Bakar berkata kepada Umar bahwa orang-orang itu telah melampaui mereka dalam keutamaan karena tambahan pahala tersebut. Abu Bakar adalah sosok yang senantiasa haus akan kebaikan. Beliau tidak merasa cukup dengan amalnya dan selalu merasa iri secara positif (ghibthah) jika melihat orang lain meraih pahala yang lebih besar. Perasaan ini mendorong seorang muslim untuk terus berlomba-lomba meraih derajat yang lebih baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

KEDENGKIAN YAHUDI TERHADAP SALAM DAN AMIN

Imam Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad (nomor 988) meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan bagaimana kaum Yahudi memandang keutamaan ibadah umat Islam. Beliau bersabda:

مَا حَسَدَتْكُمُ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ مَا حَسَدَتْكُمْ عَلَى السَّلَامِ وَالتَّأْمِينِ

“Tidaklah kaum Yahudi merasa dengki (hasad) kepada kalian sebagaimana kedengkian mereka terhadap salam dan ucapan amin.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad; diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)

Kaum Yahudi merupakan makhluk yang memiliki sifat hasad yang sangat besar ketika melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keutamaan kepada orang lain. Mereka mengetahui kebenaran ajaran Islam secara detail, termasuk manfaat dari salam dan ucapan amin. Mereka merasa dengki karena salam merupakan pengerat ukhuwah serta penumbuh cinta dan kasih sayang yang tidak mereka miliki atau tidak mereka amalkan.

Keutamaan Makna di Balik Kalimat Salam

Salam dalam Islam memiliki kedudukan yang jauh berbeda dibandingkan dengan sekadar ucapan permisi atau sapaan selamat pagi dan sore. Kalimat Assalamu’alaikum merupakan doa permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar seseorang diselamatkan dari segala marabahaya, penyakit, musuh, hingga bencana.

Selanjutnya, tambahan Warahmatullah berarti memohonkan rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang tersebut. Sementara itu, Wabarakatuh mengandung doa agar kebaikan yang diterima terus tumbuh, berkembang, dan bertambah. Kalimat ini sangat mendalam karena mencakup doa keselamatan, kasih sayang, dan keberkahan sekaligus. Tradisi salam ini telah diajarkan sejak Nabi Adam ‘Alaihis Salam diciptakan. Perbandingan antara salam Islam dengan berbagai salam buatan manusia menunjukkan bahwa salam yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki kebaikan yang paling utama.

Kekuatan Ucapan Amin

Kaum Yahudi juga sangat dengki terhadap ucapan amin umat Islam, terutama dalam shalat saat imam selesai membaca surat Al-Fatihah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan keutamaan ini:

إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينُ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Jika imam mengucapkan ‘amin’ maka ucapkanlah ‘amin’, karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tebarkan salam di tengah masyarakat tidak hanya mendatangkan pahala dan kegembiraan bagi sesama muslim, tetapi juga menjadi cara untuk menunjukkan kemuliaan syiar Islam. Sebaliknya, meninggalkan sunnah salam hanya akan membuat musuh-musuh Islam merasa senang. Seorang muslim hendaknya berupaya meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla dengan senantiasa menghidupkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam kehidupan sehari-hari.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56026-keutamaan-mengucapkan-salam-dalam-majelis/